Sabtu 19 Oktober 2019
As-Sabt 19 Syafar 1441

Informasi Penting

KEBERSAMAAN DALAM KERAGAMAN (Perspektif Al Quran)

17-05-2019


Pergeseran paradigma yang melanda umat beragama ( masyarakat ) hari ini , sebagai akibat dari efek negatif poros globalisasi dan modernitas  yang merambah tidak hanya pada jalan kehidupan duniawi tetapi juga jalan kehidupan ukhrawi, dimana dimensi kehidupan manusia tengah mengalami tirani modernisasi. Kondisi seperti ini sangat dimungkinkan  agar aspek pemahaman agama ( spiritualitas ) harus mampu menjadi filter terhadap bahaya modernisasi secara fungsional dan profesional. Telaah rasional ilmiyah  dan penghayatan ruhaniyah akan peran agama penting dilakukan, terutama  berkaitan dengan bagaimana para pemeluk agama itu mampu beraktualisasi dengan pekembangan kehidupan yang terus melaju dengan cepat. Modernisasi kehidupan adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Peran dan fungsi agama ( Iman ) secara substansial mutlak ditantang kearah spiritualitas dan religiusitas yang  akan  memberi makna bagi kehidupan modern. Untuk itu sangat tepat apa yang telah disepakati oleh Ulama kita dalam  kaedah usul fiqih ,”al-muhafazhah ‘alaal-qadim al-salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah “ ( Memelihara nilai yang baik dan merumuskan nilai yang baru yang lebih baik ), layak dipertimbangkan sebagai solusi bagi desakan modernisasi global tersebut.

Kehidupan manusia dengan asfek sosial yang berbeda perlu di kaji ulang. Untuk kembali di revitalisasi dan reorientasi sesuai petunjuk Al-Quran. Manusia mutlak memerlukan bimbingan dan petunjuk,  dan petunjuk itu telah turun berada di tengah-tengah kita saat ini, yaitu Al-Quranul karim. Al-Quran adalah kitab suci yang sarat  nilai dan merupakan petunjuk ( hudan ) bagi kehidupan manusia. Al-Quran bukan karya manusia seperti kitab lainnya. Sampai hari ini dan bahkan sampai kapanpun Al-Quran  tidak akan bisa di tiru , diubah ataupun bahkan dihilangkan di permukaan bumi karena dipelihara oleh Sang Maha Pencipta yaitu Allah swt sebagaimana Firman-Nya :


Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya ( Qs. Al-Hijr 9).

Sebagai petunjuk , Al-Quran memberikan pedoman tentang maslahat kehidupan manusia secara menyeluruh, baik yang menyangkut dengan kehidupan peribadi, keluarga dan bahkan sampai kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Al-Quran berbicara dalam seluruh kontek kehidupan manusia, baik kehidupan sebelum manusia lahir, setelah dan bahkan sampai pada  kehidupan mendatang di alam baqa atau di  akhirat kelak. Karena pesan moral Al-Quran menyentuh seluruh asfek kehidupan manusia , tentu tidak diragukan lagi sudah barang tentu saatnya kita harus merujuk kembali kepada petunjuk Al-Quran tentang kehidupan ini.

Dalam kontek kehidupan modern saat ini dimana masyarakat dengan basis tehnologi dan ilmu pengetahuan yang sering disebut sebagai masyarakat milenial telah mengalami pergeseran nilai baik nilai-nilai sosial ataupun budaya. Umpamanya saja nilai kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas pergaulan sosial kita sedikit demi sedikit sudah mulai hilang digantikan dengan sikap individualistik dan egoistik. Pergeseran nilai tersebut telah merambah masuk mulai dari kehidupan keluarga sampai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kontek kehidupan bernegara , umpamanya Indonesia ( khususnya ) secara masif menuju kepada perubahan struktur dan pola yang tidak seimbang . Banyak kesenjangan yang kita lihat dan saksikan Baik kesenjangan dalam  berpolitik dan berekonomi, maupun kehidupan beragama . Akibat dari itu  telah memicu timbulnya gejolak dan gejala ketidak puasan masyarakat sehingga muncul berbagai aksi-aksi  sosial seperti apa yang disebut dengan people power ( kita tidak mengulas apa itu people power ). Hal tersebut tentu saja akibat dari hilangnya pola keseimbangan  akibat benturan  kepentingan  yang pada akhirnya memporak porandakan nilai kebersamaan dalam masyarakat. Ini tentu pula  tidak lepas dari akibat lain  yang takterhindarkan dari akibat  pergaulan dalam percaturan dunia global saat ini.

Secara struktur kemasyarakatan Indonesia adalah masyarakat plural dan beragam , namun tataran nilai kebersamaan dalam keragaman itu sudah mulai mengalami penyusutan dan bahkan bisa hilang.Oleh sebab itu tentu sangat tepat pada momen Nuzul Quran tahun ini ( 1440 H/2019 M ) untuk kita jadikan sebagai semangat memulai langkah baru dalam mengembalikan nilai kebersamaan ditengah hiruk pikuk arus politisasi yang meresahkan kita saat ini.

Dilihat  dari berbagai asfek , masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk ( plural ). Dari segi etnis, misalnya ada suku Melayu suku batak  dan suku yang lainnya sehingga menjadi suku yang besar di tanah air ini. Pluralitas  / masyarakat majemuk merupakan Rahmad Allah swt, dan merupakan sunntatullah atau ketetapan Allah ( Allah berfirman ):




Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa  dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.( Al-Hujurat 13 ).

Tidak kurang dari 1.072 suku-suku derivative besar dan kecil yang berkembang di persada Nusantara kita ini ( Leo Suryadinata ; 2003 ). Dari segi bahasa , terdapat ratusan bahasa yang digunakan diseluruh wilyah Indonesia , yang tersebar kedalam beribu-ribu pulau yang dihuni oleh masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke.  Begitupun dari segi agama terdapat sejumlah agama besar dunia dan sejumlah sistem kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan networking nya masing-masing  baik di dalam maupun di luar negeri. Kesemua itu memerlukan adanya suatu sistem yang dapat menjamin koeksistensi atau kerjasama dalam kemajemukan.

Dalam kontek seperti ini, 14 abat yang lalu Islam telah memberikan petunjuk kepada kita seperti yang dapat kita baca dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13 diatas. Untuk mewujudkan kebersamaan dalam keragaman khususnya dalam kontek kehidupan berbangsa dan bernegara sekurang-kurangnya terdapat dua perfektif  besar petunjuk Al-Quran yang mesti kita amalkan dalam mewarnai  kehidupan bersama dalam keragaman  yaitu ; Pertama; mengamalkan prinsif as-syu’ub, yaitu menerima eksistensi dan perbedaan suku  bangsa lain sebagai anugerah rahmad dari Allah swt. Kedua; nahdhariyah al-nahdha, yaitu menerima eksistensi kemanusiaan . Bahwa manusia merupakan ciptaan Allah swt  yang memiliki kesamaan hak satu sama lain .

Dalam prinsip pertama Al-Quran menghendaki umat manusia menerima perbedaan sebagai eksistensi kehidupan. Perbedaan adalah ciptaan Allah swt, dan semua ciptaan Allah adalah anugerah terindah untuk manusia dan makhluk lainnya. Ini menunjukkan bahwa kehidupan ini menjadi indah dengan perbedaan dan menjadi nyaman dengan kebersamaan.Kemudian dalam prinsip kedua Al-Quran menghendaki bahwa  keberadaan manusia adalah sebagai bukti kekuasaan Allah swt. Manusia di ciptakan memiliki hak-hak azazi yang harus diakui oleh siapapun juga. Melanggar hak azazi atau mengingkari hak azazi manusia itu sama artinya dengan mngingkari penciptaan. Dengan demikian eksistensi penciptaan harus dipandang sebagai hukum yang tak boleh dilanggar apalagi didzalimi.

Dari dua prinsif yang di ajarkan Al-Quran sangat jelas bagi kita bahwa keragaman ( plural ) merupakan sunnatullah dan anugerah Yang Maha Kuasa. Pluralisme masyarakat adalah salah satu ciri utama dari masyarakat multikultural  seperti Indonesia.  Dalam kajian para ahli sosiologi Indonesia disebut sebagai negara yang masyarakatnya pluralistik. Kata ini sering diartikan dengan masyarakat majemuk / plural society. ( Nasikun; 1998 ).  Berdasarkan petunjuk Al-Quran  pluralisme  ( keragaman ) sangat penting artinya terutama dalam semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Keragaman merupakan potensi strategis untuk mewujudkan pembangunan dan sekaligus sebagai rahmad Allah swt. Keragaman merupakan kekuatan atau energi untuk membangun kebersamaan . 

Dengan adanya kebersamaan tercipta peluang atau kesempatan untuk  mengekspresikan diri , hidup berdampingan , dan bekerjasama antar berbagai kelompok masyarakat. Hal ini tentunya sejalan pula dengan petunjuk Al-Quran untuk ber-taawwun  ( tolong menolong ) saling bekerja sama dalam membangun kebaikan. ( Firman Allah swt ):

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.( Qs.Al-Maidah : 2 ).

Dari ayat tersebut , terdapat pelajaran bahwa  substansi kehidupan  ini adalah untuk kebersamaan yang akan kita persembahkan secara peribadi kepada Allah swt. Substansi itu tidak lain adalah pola hidup Qur’ani yang dibangun atas dasar keragaman. Inilah ciri masyarakat Qurani , yaitu masyarakat yang mampu mengendalikan diri untuk kebersamaan dalam membentuk budaya dan peradaban yang berazaskan demokrasi. Masyarakat yang dibangun diatas prinsif gotong royong untuk kebajikan, sehingga sikap menghargai Hak Azasi Manusia akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Disamping itu energi keragaman akan melahirkan  tegaknya keadilan dan hukum, terwujudnya nilai budaya dan etos , kebersamaan, kesedrajatan, penghargaan atas keyakinan, kesempatan berprestasi, penghindaran tindak kekerasan fisik dan keyakinan, rasa aman dengan identitas dan sebagainya .
 
Akhirnya perlu kita  sadari bahwa tujuan penciptaan , baik dalam tatanan kehidupan pribadi ataupun kelompok dalam pandangan Al-Quran merupakan tujuan mulya  yang akan mengangkat derajat kemanusiaan , tetapi jika kita mengingkari tujuan penciptaan itu maka kita akan jatuh hina dan bahkan lebih hina dari binatang sekalipun  .Untuk menuju kearah itu tentu membutuhkan tekat kuat mulai dari pribadi sampai kepada tekat bersama . Dimulai dari kesadaran diri sampai pada kesadaran kolektif . Untuk itu kita sangat membutuhkan daya dorong  dan semangat, yang  muncul dari diri masing-masing umat atau masyarakat. Kita mesti memperkuat sendi – sendi kekuatan  iman atau aqidah secara menyeluruh ( kaaffah ), dan terpadu dalam setiap diri berupa ilmu dan amal . Disamping itu juga menghendaki usaha secara sungguh-sungguh dengan mensinergikan bebagai aspek sosial kemasyarakatan dengan meletakan keragaman sebagai peluang bukan sebagai ancaman. Hanya dengan demikian keragaman dalam kebersamaan dapat terwujud di  tengah masyarakat yang multi kultur seperti Indonesia yang kita cintai ini. [H.Muhammad Nasir, S.Ag,MH]
 

4596