Selasa 07 Desember 2021

Berita

Satgas Halal Gandeng Stakeholders Sosialisasikan Sistem Jaminan Halal HAS 23000

25-11-2021


* Satgas Halal Gandeng Stakeholders Sosialisasikan Sistem Jaminan Halal HAS 23000

Tanjungpinang (Humas)_Satgas Halal Kanwil Kemenag Kepri bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kepulauan Riau dan LP POM MUI Kepri menyelenggarakan kegiatan Sistem Jaminan Halal HAS 23000 di Aula Kanwil Kemenag Kepri, Kamis, 25 Nopember 2021.

Sebanyak 23 pelaku usaha di Tanjungpinang dan Bintan menjadi peserta kegiatan yang digelar selama satu hari tersebut.

Dalam sambutannya, Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Kepri, H. Abu Sufyan mengucapkan terima kasihnya atas dukungan semua pihak untuk menuntaskan program pemerintah dalam menyediakan produk halal baik produk makanan, kosmetik dan barang gunaan

Abu menjelaskan Pemerintah melindungi warganya untuk mendapatkan produk halal sesuai dengan syariat. “Target pemerintah pada 2024 seluruh UMK memiliki sertifikat halal termasuk di Kepulauan Riau,” ujar Abu Sufyan.

Dalam program Sehati BPJPH pada 2020 telah menuntaskan sertifikasi halal kepada 200 UKM di Kepulauan Riau dan pada 2021 saat ini sudah terdaftar 300 UMK yang siap mengikuti program sertifikat secara gratis. “Dengan demikian target kita tercapai,” ucapnya.

“Dengan demikian masyarakat di Kepri tidak ragu lagi dengan produk yang dikeluarkan oleh UMK. Perlu kerjasama semua pihak agar Sehati bisa mencapai target. Output, impact dan benefitnya bisa dinikmati oleh masyarakat Kepulauan Riau,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Kepulauan Riau Eki, MM mengatakan menata kelola UMK banyak aspek yang dibicarakan, demikian pula pihak-pihak yang terlibat.

“Ada 23 K/L yang terlibat dalam pemberdayaan UMK mulai pemilihan bahan baku sampai pasca produksi. Sertifikat halal sebagaimana diundangkan menjadi kebutuhan bukan saja untuk produsen tapi juga konsumen”, tegas Eki.

Eki menjelaskan Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia ternyata belum mampu menjadi penyaji produk halal terbesar pula. Kata Eki, Brazil menjadi negara pertama yang paling peduli dengan produk halal, sedangkan Thailand menjadi negara paling peduli pariwisata halal sementara Inggeris menjadi negara yang paling peduli akan produk inklusi keuangan halal.

“Banyak pelaku usaha yang membutuhkan sertifikat halal dan peserta adalah pelaku usaha yang beruntung karena dilibatkan dalam proses yang difasilitasi negara,” tegas Eki.

Dalam materinya, perwakilan LP POM MUI Kepri, Khairuddin Nasution menterjemahkan kata halal berasal dari kata halla. Makanan halal adalah makanan yang tidak akan membuat manusia berbuat dosa di dunia dan mendapatkan siksa di akhirat.

Makanan yang thoyyib adalah makanan yang tidak kotor dari segi zat atau makanan yang tidak tercampur dengan najis, makanan yang mengandung selera bagi yang akan mengkonsumsinya dan tidak membahayakan fisik dan akalnya, makanan yang sehat dan bergizi.

Hingga berita ini diterbitkan, materi dilanjutkan dengan Manual SJPH (Sistem Jaminan Produk Halal) oleh Tim Satgas Halal Kanwil Kepri dan Auditor Halal LPPOM MUI Dodi Revinaldo.(h)

54

Berita Terkait