Selasa 13 November 2018
Ats-tsulatsa 4 Rabiul Awal 1440

Berita

Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Kemenag RI Gelar Seminar Hasil Benchmarking Model Kajian Khazanah Keagamaan di Luar Negeri

25-10-2018


* Peserta Seminar Benchmarking Model Kajian Khazanah Keagamaan di Luar Negeri

Batam (Inmas-Kepri) --- Badan Penelitian dan Pengembangan Setara Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama Republik Indonesia, tadi malam, Rabu (24/10/18) menggelar kegiatan Seminar Hasil Benchmarking Model Kajian Khazanah Keagamaan di Luar Negeri bertempat di Hotel Harmoni Jl.Imam Bonjol No.1 Nagoya Batam.
 

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (24-16 Oktober 2018) mengikutsertakan peserta dari Penelitian Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Balai Litbang Agama, Bimas Islam, Dosen-dosen dari perguruan tinggi agama maupun umum, Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud, Jakarta Islamic Center (JIC), Media Massa, Republika, Batam Pos, NU Online, Sutradara, Praktisi Bidang Budaya Keagamaan dan Kementerian Agama Kota Batam dengan jumlah peserta sebanyak 55 orang.

Hadir dalam pembukaan acara tersebut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau yang diwakili oleh Kepala Seksi Madrasah Kemenag Kota Batam, H.Muhammad Dirham, S.Ag, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof.H.Abd.Rahman Mas’ud,Ph.D, Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Dr.Muhammad Zain.

Dalam sambutannya, Dirham menyampaikan salam dan permohonan maaf Ka.Kanwil Kemenag Kepri yang tidak bisa hadir dalam kesempatan ini dikarenakan pada waktu yang bersamaan beliau menghadiri acara Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) ke 5 tahun 2018 di Jambi.

Sebagai kata pembuka, Dirham menyapa seluruh peserta yang hadir dengan sebait pantun, “Bunga melati dalam jambangan; Dipetik oleh si tuan putri; Selamat datang kami ucapkan; Di Kota Batam Bandar Dunia Madani,” yang disambut dengan gemuruh tepuk-tangan peserta.

“Sebagai tuan rumah kami sangat senang sekali Batam dipercayakan sebagai tuan rumah untuk kegiatan semacam ini. Kajian khazanah keagamaan saya harapkan tidak hanya dilakukan di luar negeri saja, di Kepri juga punya Khazanah Islam yang cukup terkenal yakni Gurindam XII di Pulau Penyengat,” ungkap Dirham.

Selanjutnya di hadapan peserta Dirham membacakan isi dari Gurindam XII gubahan Raja Ali Haji yang berbunyi: “Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang yang ma’rifat. Barang siapa mengenal Allah, Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri. Barang siapa mengenal dunia, Tahulah ia barang yang teperdaya. Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.”


Senada, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof.H.Abd.Rahman Mas’ud,Ph.D, dalam sambutannya mengatakan, “Kajian khazanah yang dilakukan di luar negeri seperti di Jerman (Hamburg), Jepang (Osaka dan Tokyo) dan di India (New Delhi, Agra dan Aligarh) istilahnya bukan study banding. Akan tetapi menurut saya adalah study copy, study tiru dan study sempurnakan menerapkan.”

“Jadi kita mencopy yang sudah ada di luar negeri, kemudian kita meniru, meniru dengan tanggung jawab dan serius tetapi juga harus kita sempurnakan,” tandas Prof.Abd.Rahman.

Prof.Abd.Rahman juga mengatakan mengapa memilih Kota Batam menjadi tuan rumah dalam kegiatan ini, karena di Provinsi Kepri ini mempunyai Khazanah Kearifan Lokal yang dikenal dengan Gurindam XII, di dalamnya ada ajaran sufi yang memuat sariat, hakikat dan makrifat.

Kemudian beliau juga mengutip dan membacakan Gurindam XII yang pas buat para peneliti dan bergelut dengan khazanah keagamaan seperti dalam pasal VII yang berbunyi “Apabila banyak berkata-kata, Di situlah jalan masuk dusta. Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah landa hampirkan duka. Apabila kita kurang siasat, Itulah tanda pekerjaan hendak sesat. Apabila anak tidak dilatih, Jika besar bapanya letih. Apabila banyak mencela orang, Itulah tanda dirinya kurang. Apabila orang yang banyak tidur, Sia-sia sahajalah umur. Apabila mendengar akan khabar, Menerimanya itu hendaklah sabar. Apabila mendengar akan aduan, Membicarakannya itu hendaklah cemburuan. Apabila perkataan yang lemah-lembut, Lekaslah segala orang mengikut. Apabila perkataan yang amat kasar, Lekaslah orang sekalian gusar. Apabila pekerjaan yang amat benar, Tidak boleh orang berbuat honar.”

Terpisah, panitia pelaksana kegiatan Asep Saefullah mengatakan maksud dan tujuan dari kegiatan Becnhmarking ini setidaknya memiliki dua maksud, pertama untuk membuka jaringan dan menjajagi kemungkinan kerjasama dengan mitra-mitra strategis dalam hal penelitian dan pengembangan serta pengelolaan warisan budaya (cultural heritage), khususnya khazanah keagamaan (religious heritage) Nusantara. Maksud ini juga terkait dengan internasionalisi kelembagaan Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) dan diseminasi hasil-hasil kelitbangannya; dan yang kedua untuk meningkatkan kinerja Puslitbang LKKMO melalui penguatan kapasitas kelembagaan dan kompetensi peneliti/pegawainya terkait dengan model penelitian dan pengembangan serta pengelolaan warisan budaya (cultural heritage), khususnya manuskrip dan khazanah keagamaan (religious manuscript and heritage).

Sementara tujuannya adalah “mengidentifikasi, mengelompokkan, dan menganalisis model-model kajian dan koservasi khazanah keagamaan dari lembaga-lembaga terkait, khususnya di India, Jepang, dan Jerman; Mendata dan memetakan potensi khazanah keagamaan Nusantara yang berada di luar negeri atau yang terkait, baik dalam rangka penyediaan data bagi pembentukan Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara maupun bagi penyusunan Pangkalan Data (Database) Khazanah Keagamaan Nusantara; Mengidentifikasi langkah-langkah strategis dan aplicable untuk pengayaan dan penguatan metodologi dan model penelitian dan pengembangan khazanah keagamaan dan untuk membangun kerjasama dengan mitra-mitra strategis terkait. Meningkatkan kualitas SDM Puslitbang LKKMO, khususnya dalam hal penelitian dan pengembangan khazanah keagamaan,” tutup Asep. (Syahbudi) 

92

Berita Terkait