Selasa 18 Juni 2019
Ats-tsulatsa 14 Syawal 1440

Berita

Puasa Sebagai Penempaan Jiwa dan Pendidikan Moral

17-05-2019


* H.Abdurokhman, S.Ag, Kasi Bimas Islam Kemenag Lingga

(Kemenag Lingga) -- Istri Rasullah Saw Aisyah pernah menafkahkan hartanya, dalam satu hari dibulan Ramdhan, sebanyak 100 ribu dirham, sehingga hanya yang tersisa baju yang dipakai sehari-hari. Lalu pembantunya berkata kepadanya: “ Sebaiknya anda sisakan sedikit untuk keperluan kita berbuka pada hari ini, kemudian Aisyah menjawab : “ seandainya tadi engkau ingatkan pasti akan aku sisakan  untuk keperluan tersebut.” Begitulah sifat dari sosok seseorang yang melaksanakan ibadah puasa, ia lupa akan kebutuhan dirinya sendiri, akan tetapi sebaliknya ia selalu ingat dengan kebutuhan orang lain. Alangkah mulianya Akhlak orang yang berpuasa ia memiliki sifat empati, dimana ia memikirkan kebutuhan dan keperluan orang lain dan melupakan kebutahannya sendiri. Dan inilah yang dikehendaki oleh Allah tentang pensyareatan puasa. Maka tentunya kita dapat mengambil sebuah hikmah dan merefleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari baik dibulan Ramadhan maupun diluar Ramadhan, karena pada hakekatnya Ramadhan sebagai Tarbiyyatun Nafs (Penempahan jiwa ).

Oleh karenanya benar dan wajar, jika para pemimpin, para politisi, para pegawai negeri sipil, para birokrat dan lain sebagainya dengan memakai paradigma bahwa, segala aktiviatas, tugas pokok  dalam berkinerja dan berkarya mengabdi kepada masyarakat dengan ikhlas,  semata-mata mengharap ridlo Allah swt bukan untuk mengejar popularitas dan penghargaan. Maknanya adalah bahwa ketika ada masyarakat yang mencoba memberikan kritik sebagai aspirasi, kita inventarisir yang selanjutnya kita tindaklanjuti menjadi kebijakan-kebijakan yang menyentuh dihati masyarakat.

Didalam berpuasa juga terdapat kebiasaan yang baik sebagai cerminan akhlak yang mulia serta memberikan pendidikan moral.  Puasa adalah suatu bentuk ibadah yang bersifat Sirri (tertutup dan tersembunyi ), puasa menjadi rahasia manusia dengan Tuhannya. Didalam puasa jika dijalankan dengan benar tidak ada sifat riya (pamer ) dan tipuan, tidak ada pujian dan sanjungan. Ketika seorang mukmin berpuasa, maka cukuplah bagi rasa lapar dan tunduknya itu hanya Allah yang mengetahuinya, begitu juga atas kebenaran niatnya. Cukuplah baginya pahala puasa, yaitu pensucian jiwa dari sifat Riya’ (pamer) dan sombong, juga pemantapan dalam segala perkataannya, sehingga selalu berkata benar dan jujur.

Didalam ibadah puasa akan tumbuh sifat dan prilaku yang baik, diantaranya budaya malu untuk berkata bohong, dusta, mencuri, membicarakan aib orang lain, menyakiti sesamanya, menanamkan rasa permusuhan. Dalam hal ini Rasullah Saw. Bersabda : “ Barang siapa tidak berusaha untuk meninggalkan perkataan bohong dan perkataan dusta, maka tidak ada kepentingan bagi Allah olehnya meninggalkan makan dan minum.”

Rasullah Saw juga melarang kepada orang yang sedang berpuasa, untuk tidak melayani ejekan orang lain, dan menganjurkan tidak membalasnya. Sebagaimana dalam Sabdanya : “Jika ada seseorang yang mencaci maki orang yang sedang berpuasa atau menyulut timbulnya permusuhan, maka hendaknya ia ucapkan : “Inni Shoim.” ( saya sedang berpuasa ). Alangkah indahnya moralitas seperti ini, jika dimiliki oleh kita semua, apakah seorang pemimpin, politikus, ASN, birokrat, masyarakat biasa, dibulan Ramadhan, dimana sifat ini sulit kita lakukan diluar bulan Ramadhan.  Karena bulan Ramadhan sebagai bualan penempahan jiwa  dan pendidikan moral, maka kita selalu dianjurkan membaca doa Tasyahud yang berbunyi : “ Asyhadu Anla ilahaillah Asytaghfirallah Nasalukal Jannata Wana Udzubika Minnar  Allahumma Innaka Afuwun Tuhibuul Afwa Wafuanna Ya karim..”.

Ending dari doa ini kita bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, serta mohon Ampun kepada Allah,  dengan Memohon Surga Allah serta diberikan perlindungan   (dihindarkan dari api neraka ). Hal ini mengapa selalu kita baca, karena kita berharap dan berdoa Selepas Ramadhan kita termasuk hamba-hamba Allah yang akan mendapatkan kemenangan dan mampu mentradisikan budaya Ramdhan yang positif kita wujudkan diluar bulan-bulan Ramadhan.  Sekian semoga bermanfaat. (H.Abdurokhman, S.Ag/ Zaid)
 

110

Berita Terkait