Minggu 17 Januari 2021

Berita

Program KIIS Seri #9 Menciptakan Smart ASN Menuju Birokrasi 4.0

18-11-2020


* Program KIIS Seri #9 Menciptakan Smart ASN Menuju Birokrasi 4.0

Tanjungpinang (Humas)- Inspektorat Jenderal Kemenag RI menyelenggarakan kegiatan KIIS Seri #9 dengan thema Menciptakan Smart ASN Menuju Birokrasi 4.0, Rabu, 18 Nopember 2020 yang dilaksanakan secara daring. 

Hadir sebagai narasumber secara online antara lain Inspektur Wilayah IV Inspektorat Jenderal Kemenag RI Dr. Suhersi, Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Imam Taufiq, dan Kakanwil Kemenag Jateng H. Musta’in Ahmad, MH. 

Inspektur Wilayah IV Itjen Kemenag RI, Suhersi menyebutkan pembina kepegawaian di daerah memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan ASN yang smart. “Partisipan pada kegiatan ini mencapai 761 peserta yang terus bergerak dengan estimati total 1.500 peserta,” kata Suhersi. 

Suhersi menambahkan smart ASN harus didorong karena ASN memiliki posisi yang strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pelaksana kebijakan publik sesuai dengan tugas dan fungsi K/L masing-masing. ASN yang smart amat penting dalam memberikan pelayanan publik dan sebagai pemersatu bangsa dari berbagai permasalahan yang ada dalam berbangsa dan bernegara. 

Posisi ASN dalam tiga koridor tersebut sangat berpengaruh dalam konteks pelayanan publik di Kemenag dari Sabang sampai Merauke dengan 4.953 satker dimana jumlah ASN mencapai 226.853 orang dan menelan anggaran Rp64 triliun per tahun. 

Posisi yang strategis tersebut memerlukan ASN yang cerdas dalam tata kelola pemerintahan. Yang dibutuhkan adalah ASN yang lincah sesuai dengan grand design Menpan RB tahun 2020-2024 yakni ASN yang smart. Kemenag sudah berada pada tahapan implementasi sehingga memberikan pelayanan publik yang memadai dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. ASN sebagai perencana, pelaksana dan mengevalusi proses pembangunan berposisi sangat strategis. 

Menpan RB, kata Suhersi telah merumuskan human capital SDM unggul pemerintah antara lain untuk menciptakan ASN yang produktif antara lain perampingan struktur organisasi dengan penyetaraan eselonisasi menjadi pejabat fungsional tertentu dimana sudah 117 jabatan yang sudah disetujui oleh Menpan RB telah berubah dan masih ada 83 jabatan yang belum disetujui Menpan RB dan akan segera dilakukan penyesuaian. 

“Tugas kita menyikapi dan memberikan sosusi menuju birokrasi yang ramping, produktif, dan smart. Maka dilakukan pembenahan untuk melaksanakan tusi sesuai ortaker masing-masing dimana Kemenag adalah instansi vertikal yang harus dikaji Anjab dan ABK baik dari sisi kompetensi, kualitas, kuantitas sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” ujar Suhersi. 

Suhersi menambahkan, di Kemenag anggaran berpola buttom up dengan pengusulan secara berjenjang dari unit terkecil sampai ke pusat. Perencanaan harus dikaji dengan tuntas karena berpengaruh terhadap pembangunan. Pembenahan dibidang perekrutan dilakukan secara ICT dan tidak lagi manual menuju pemerintahan kelas dunia. Pada rekruitmen ASN tahun 2018, 2019, 2020 dilakukan secara digital sehingga terjamin transparansinya. 

Pengembangan kapasitas dengan peningkatan kualitas ASN karena derasnya tuntutan kinerja terhadap ASN itu sendiri bersifat wajib dengan melakukan penilaian, promosi, rotasi dan mutasi yang dilakukan secara transparan dengan berprinsip pada rasa keadilan sehingga penilaian kinerja ASN semakin obyektif. Pemerintah juga memperhatikan kesejahteraan ASN dengan memperhatikan peningkatan tunjangan berbasis kinerja agar ASN memiliki kehidupan yang layak. 

Pada kegiatan yang sama Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Imam Taufiq mengatakan jumlah ASN di Indonesia sejatinya sudah banyak. Jumlahnya besar tetapi kualitasnya belum maksimal. Menurutnya data Menpan RB menyebutkan 30% ASN memiliki kinerja yang buruk dan tidak bekerja secara maksimal. Dan sebanyak 60% ASN di Indonesia berpendidikan menengah dan belum mengenyam pendidikan tinggi.  

Sementara itu menurutnya, BPS juga menyebutkan banyak ASN yang usianya sudah senja, pada saat yang sama sektor swasta mempekerjakan angkatan muda yang lebih melek teknologi. Tahun 2018, Indonesia berada pada posisi 89 negara terkorup di dunia.

“Kini kita menghadapi dinamika global yang luar biasa, era 4.0 yang merupakan era digitalisasi dengan internet of think menjadi rajanya. Pada saat yang sama pula, pandemi juga mengajarkan kita menggunakan internet secara massif menuju percepatan,” ucap sang Rektor. 

Rektor lebih jauh mengatakan era disrupsi merubah semua aspek kehidupan. Banyak pekerjaan yang dulu ada kini hilang dengan digunakannya ICT. Konsep reformasi birokrasi dengan sistem meritokrasi sudah sangat tepat, hanya perlu penyempurnaan implementasi.  

“Kini saatnya diberikan apresiasi pada ASN yang berprestasi. Saatnya dilakukan diklat, coaching, mentoring dan lain sebagainya untuk mendukung pengembangan kompetensi ASN. Smart ASN diperlukan untuk mengisi birokrasi dengan talent manajemen yang bersumber pada sumber daya manusia dengan budaya kerja yang agamis. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah. Bekerja adalah perintah Allah,” pesan Rektor. 

“Seluruh yang kita lakukan inheren antara hati, pikiran dan kinerja. Pemerintah menciptakan transparansi dan akuntabilitas dengan implementasi ICT menuju tata pemerintahan kelas dunia. ICT saat ini menjadi raja,” tambah sang Rektor.  

“Semua terkaget tetapi semua harus melakukan percepatan dan tidak terlena. Karakternya harus clear dengan integritas yang kuat dan nasionalisme karena kita hidup di negara Indonesia yang merupakan hasil perjuangan para pahlawan yang sudah mengorbankan segalanya. Jangan pernah menjadi ASN jika tidak memiliki rasa nasionalisme,” tegasnya. 

Menurutnya saatnya ASN memiliki kompetensi khusus dengan wawasan global pada peningkatan daya saing global. Saatnya semua berbenah. Penguatan ICT dan bahasa asing dengan literasi internet yang mengglobal dengan kecepatan berbasis SOP yang jelas. Dia meminta ASN melakukan adaptasi dengan kondisi apapun dengan membangun jejaring yang luas dan kuat dengan menyerap kemampuan enterpreneur sesuai dengan kebutuhan zaman. 

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Jateng H. Musta’in Ahmad, MH, mengatakan ASN setidaknya memiliki empat kompetensi supaya menjadi penyelesai masalah, dan bukan bagian dari masalah itu sendiri. Kompetensi itu antara lain kompetensi manajerial meskipuan tidak setiap ASN adalah menajer namun sifat kepemimpinan yang melekat setiap ASN harus ada, kemampuan teknikal sesuai dengan bidang tugas profesionalnya, kompetensi pemerintahan dengan memahami segala regulasinya, dan kompetensi sosial yang hidup pada tataran global. 

“Karena ASN yang smart adalah wajah pemerintahan kita,” pesannya.  

 

63

Berita Terkait