Jumat 19 Juli 2019
Al-Jumuah 16 Dzulka'dah 1440

Berita

Kanwil Kemenag Kepri Gelar Kegiatan Bina Paham Keagamaan

18-06-2019


* Kegiatan Bina Paham Keagamaan 2019

Batam (Inmas-Kepri) --- Sebanyak 30 orang peserta dari utusan masing-masing Kemenag Kabupaten Kota se Provinsi Kepulauan Riau mengikuti kegiatan Bina Paham Keagamaan se Provinsi Kepri tahun 2019.

Kegiatan yang gelar selama 3 hari dari tanggal 18 s.d. 20 Juni 2019 tersebut dilaksanakan di  Golden View Hotel Batam.

Dalam laporannya Kasi Urais dan Binsar Afifah Mardiah,S.Ag mengatakan bahwa maksud dari diadakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peserta sehingga terbangun sinergi antara instansi dan komunitas terkait dalam melakukan advokasi, pendampingan, pembinaan dan penanganan terhadap korban aliran dan gerakan keagamaan bermasalah.

Sedangkan tujuan dari kegiatan ini adalah terbangunnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi korban aliran dan gerakan keagamaan bermasalah untuk lebih menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam beragama.

Selanjutnya dalam arahannya Kepala Kantor Wilayah kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau, Dr.Drs.H.Mukhlisuddin,S.H.,M.A, sebelum membuka kegiatan Bina Paham Keagamaan mengingatkan kepada peserta bahwa, "Pentingnya Tri Logi Kerukunan".

"Pertama kerukunan intern masing-masing umat dalam satu agama, seperti kerukunan di antara aliran-aliran, paham-paham, dan mazhab-mazhab yang ada dalam suatu umat atau komunitas agama", jelasnya.

"Kedua kerukunan di antara umat atau komunitas agama yang berbeda-beda, adalah kerukunan di antara para pemeluk agama yang berbeda-beda seperti pemeluk agama Islam dengan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu," jelasnya lagi.

"Ketiga kerukunan antara umat atau komunitas agama dengan pemerintah diupayakan keserasian dan keselarasan di antara pemeluk atau pejabat agama dengan para pejabat pemerintah dengan saling memahami dan menghargai tugas masing-masing dalam rangka membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang beragama," harap Mukhlisuddin.

Lebih lanjut Mukhlisuddin menjelaskan unsur atau kriteria paham yang dianggap sesat antara lain mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6 (enam). Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar'i. Mengingkari kebenaran isi Alquran. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam serta menghina, bolehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul terakhir.

"Indikator aliran dan paham keagamaan dianggap bermasalah apabila membahayakan ketertiban publik, seperti membahayakan keselamatan jiwa, melanggar hak-hak dasar orang lain, menyebarkan kebencian dan permusuhan di tengah masyarakat.
Disamping itu menganjurkan permusuhan dan mengajarkan makar terhadap pemerintah yang sah serta tidak mengakui Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia", tandas Mukhlisuddin.

Ditambahkannya lagi penanganan yang dilakukan Kementerian Agama terhadap korban konflik aliran dan gerakan bermasalah adalah dengan pendekatan kultural atau kearifan lokal, pendekatan pendidikan informal serta pendekatan hukum.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Kementerian Agama Pusat, Direktur Urais Binsar. Drs. H.Muhammad Agus Salim M.Pd. pejabat  Kanwil Kemenag Kepri dan pejabat Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepri (Tim Pakem). (Syahbudi)

 

120

Berita Terkait