Minggu 17 Januari 2021

Berita

Jajaran DWP Kanwil Kemenag Kepri Ikuti Peringatan Maulid Nabi Secara Virtual

12-11-2020


* Jajaran DWP Kanwil Kemenag Kepri Ikuti Peringatan Maulid Nabi Secara Virtual

Tanjungpinang (Humas)-Ketua Darma Wanita Persatuan (DWP) Unit Kanwil Kemenag Kepri Hj. Nurcahaya, M.Pd.I beserta seluruh jajaran mengikuti kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan secara daring oleh DWP Kemenag RI, Kamis, 12 November 2020 di Aula Kanwil Kemenag Kepri Jalan Daeng Kemboja Km. 15 Tanjungpinang. 

Ketua DWP Kemenag RI, Hj. Fachrichah Nizar Ali mengatakan peserta kegiatan sebanyak 543 peserta yang merupakan pengurus DWP Kemenag se Indonesia. Tujuan kegiatan adalah untuk menjalin silaturahmi dalam format virtual untuk menambah wawasan yang bermanfaat.

“Semoga kita memperoleh syafaat dari Rasulullah. Kegiatan ini diikuti pengurus DWP Kemenag se Indonesia dari pusat hingga daerah.  Dengan harapan untuk menambah energi dalam menggerakan kegiatan DWP sehingga bisa meningkatkan program nyata ke depan,” kata Hj. Fachrichah. 

Lebih lanjut Hj. Fachrichah mengatakan DWP Kemenag harus mempunyai program yang produktif, inovatif dan bermanfaat sehingga memberikan kontribusi nyata bagi anggota dan masyarakat secara luas.

Di lokasi yang sama, Dewan Pembina DWP Kemenag RI, Hj. Anni Fachrul Razi mengatakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dengan meneladani Rasulullah karena Rasulullah sebagai penyempurna akhlak.

“Empat sifat Rasulullah yakni siddiq, amanah, tabhligh dan fathonah wajib kita teladani. Nabi memposisikan diri sebagai pribadi dengan empat sifat tersebut menjadi tauladan bagi masyarakat. Kita mulai dari diri sendiri menjadi contoh perubahan bagi lingkungan kita,” ujar Hj. Anni Fachrul Razi. 

Sementara itu, Dr. H.M. Asrorun Ni’am Sholeh, M.A. dalam tausiyah mengatakan dibalik sukses suami ada doa-doa dan air mata istri-istri yang hebat. Ibu dalam Islam menetukan masa depan generasi mendatang. 

“Setiap kita dilahirkan memiliki potensi kebaikan. Tetapi perkembangan potensinya baik atau buruk adalah peranan orang tua yang menentukan. Dan orang tua yang paling dominan bagi tumbuh kembang anak adalah sosok ibu,” ucap Asrorun Ni’am.  

Lebih lanjut dia mengatakan Islam memberikan petunjuk soal derajat keutamaan seorang wanita atau ibu. Tetapi bagaimana kita sebagai orang tua menjalankan amanat Allah itu. Ibarat pisau yang tajam, di tangan orang yang baik akan melahirkan generasi emas yang berkualitas. Tetapi sebaliknya jika amanah tersebut tidak dilaksanakan dengan baik maka akan mencelakai. 

“Privilege perempuan lainnya adalah syurga di bawah telapak kaki ibu. Privilege itu dimanfaatkan dengan baik agar menghasilkan generasi yang cemerlang dan sebaliknya jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik maka generasi yang dihasilkan juga akan tidak baik”, jelasnya. 

Peringatan Maulid kata Asrorun Ni’am memiliki dua makna, antara lain sebagai ekspresi kecintaan kita kepada Rasulullah yang merupakan bagian dari kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Maulid juga bermakna bentuk penghormatan kepada Rasulullah dan zuriatnya.  

“Barang siapa yangmenghidupkan sunnahku maka dia telah mencintaiku,” demikian kata Asrorun Ni’am menyebutkan Hadist Nabi. 

Maka dari itu, menurutnya jika ada pihak yang memiliki ekspresi yang mencederai kemuliaan Rasulullah maka umat Islam wajib mengingkarinya tetapi caranya dengan cara yang baik dan tidak berlebihan. Sebagai umat Islam wajar jika kita mengingatkan siapapun yang menodai kemuliaan Rasulullah.

Dalam contoh kasus sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron yang mendukung terjadinya perbuatan yang merendahkan martabat Rasulullah maka kita wajib mengingatkan dan tidak diam karena hal tersebut bersifat syar'i. 

“Kita bersyukur Presiden RI sudah menyampaikan kecaman atas perendahan martabat terhadap Rasulullah dan kita sebagai bangsa sudah menuntut permintaan maaf,” tegas Asrorun Ni’am. 

Dalam membangun hubungan rumah tangga, kata Asrorun Ni’am kita wajib mencontoh hubungan rumah tangga dalam keluarga Rasulullah. Rasul menjalin hubungan rumah tangga dengan Khadijah dengan menghormati kedudukan yang setara bukan hubungan yang bersifat subordinasi. 

“Kita lihat bagaimana Rasulullah memberikan mahar berupa 100 ekor unta terbaik yang saat itu unta adalah kendaraan terbaik. Begitulah Rasulullah sangat menghormati istrinya dengan melakukan pendekatan yang equal,” tambahnya.  

“Rasulullah saat itu meskipun masih muda tetapi sudah cukup sukses dalam bidang ekonomi sebagai enterpreneur muda di Tanah Arab. Rasul mengajarkan keluarga adalah sekolah pertama bagi anak keturunan dan keluarga adalah entitas terkecil dalam masyarakat yang besar sehingga keluarga mempersiapkan generasi muda sebelum memasuki dunia sosial,” pungkasnya. 
 

197

Berita Terkait