Minggu 19 September 2021

Berita

Biro HDI Kemenag Gelar Koordinasi Penguatan Kehumasan 

03-08-2021


* Biro HDI Kemenag Gelar Koordinasi Penguatan Kehumasan 

Tanjungpinang (Humas)-Biro Humas, Data dan Informasi Kementerian Agama menyelenggarakan kegiatan koordinasi penguatan kehumasan secara daring, Selasa, 3 Agustus 2021.

Kabag Humas Kemenag RI, H. Ubaidillah mengatakan penanggung jawab kehumasan perlu melakukan orkestrasi dalam mendiseminasi narasi mengingat unit-unit kerja yang sangat banyak, untuk itu perlu penguatan peran media baik media sosial maupun media mainstream.  

Dalam sambutannya Plt. Kepala Biro HDI Kemenag RI H. Thobib Al Asyhar mengatakan kita perlu membangun kehumasan menjadi energi yang kuat sehingga memiliki posisi di hati masyarakat.  Satker Kemenag yang besar, tentu memiliki ASN yang banyak. Setiap ASN adalah komunikator, humas, corong pemerintah dan barometer pemerintah. 

Minimal tenaga kehumasan saling bahu membahu, menguatkan dalam menyebarluaskan narasi yang diterbitkan oleh Kemenag. Butuh orkestrasi yang berkembang dinamis. "Karena saya nilai ada satker yang ingin membranding satkernya sendiri sehingga perlu diluruskan. Sinergikan potensi, kuatkan narasi," kata Thobib Al Asyhar.  

Membangun narasi membutuhkan keseriusan dan keilmuan yang kuat. Menguatkan narasi kita dengan setiap isu yang dikeluarkan dengan pandai membangun narasi dengan core pada ivent tahunan misalnya. 

Potensi kehumasan sangat besar di Kemenag. Tugas kita menjalin orkestrasi sehingga menjadi nyanyian yang indah. Sarana media yang sangat besar sehingga seharusnya menjadi yang terbaik untuk semua channel media, baik media sosial maupun media mainstream.  

Setiap minggu Kemenag mengeluarkan release yang strategis terutama mendukung kinerja Kemenag dan dikutip oleh media mainstream. Stakeholders kita memiliki 50 ribu penyuluh agama Islam dan agama yang lain, guru pendidikan agama, FKUB dan Bakohumas lintas K/L yang perlu melakukan penguatan peran. 

"Kita membutuhkan regulasi tata kelola kehumasan di lingkungan Kemenag sebagai referensi sehingga lebih optimal. Kita perlu melakukan pertemuan berkala seperti ini untuk saling tukar informasi untuk membangun kehumasan yang lebih baik. Banyak isu yang sensitif dengan narasi yang disampaikan harus sama persis. Jangan membuat terminologi yang bertentangan," ujarnya. 

Hal-hal yang segera dilakukan antara lain menyusun regulasi tata kelola kehumasan, menyusun agenda berkala, orkestrasi narasi program prioritas dan kerukunan umat beragama, menjalin kerjasama dengan media maintream dengan lebih luas. 

"Beri ruang yang lebih luas kepada media mainstream untuk mengekspose berbagai program dan capaian kinerja dengan membuat konten-konten yang bersinergi dengan seluruh unit kerja agar tidak ada ego sektoral," imbuhnya.  

Bagaimana dengan tugas humas  di Kanwil?

Tugas yang harus dioptimalkan dengan membuat konten-konten yang sesuai dengan narasi yang dibangun dari pusat, tidak berbeda dan jalin komunikasi dengan media lokal. Humas Kanwil mensosialisasikan kebijakan pusat pada tingkat wilayah. Optimalkan peran guru, kampus dan madrasah untuk memproduksi konten-konten yang membangun terutama untuk membuat liputan human interest di daerah-daerah. 

Sementara itu, Wibowo Prasetyo, Staf Ahli Menag Bidang Media dan Komunikasi dalam arahannya mengatakan digitalisasi di tengah wabah menjadi berkah tersendiri sekaligus jawaban atas sejumlah masalah.  

Menurutnya masyarakat sudah bosan dengan pola penyampaian pesan yang monoton. Masyarakat sudah mulai meninggalkan design yang officially, sehingga perlu diciptakan konten yang out of the box, millenial, eye catching, enak dilihat, didengar dan dinikmati. 

"Semua produk kita pasti akan dinikmati masyarakat dan memperoleh umpan balik. Ada dua K/L yang sudah sangat melinial dalam penyampaian pesan yakni Kementerian PUPR. Menteri Basuki sangat pintar menyampaikan pesan sekalipun sesuatu yang serius. Kedua, Kementerian Keuangan, Menteri Sri Mulyani selalu tampil menyampaikan pesan  dengan baik padahal sering menampilkan pesan yang njelimet dan membosankan," jelasnya. 

"Jangan ada meme kita yang produksi oldfashion, ketinggalan zaman dan ditinggalkan masyarakat digital. Memang bertahap, namun jangan terlalu lama, karena masyarakat malas membaca yang panjang-panjang tetapi suka hal-hal yang praktis, cepat dan mudah dipahami," pesannya. 
 
Staf Khusus meminta jajarannya untuk merespon dengan cepat segala hal yang terkait dengan 7 program priorotas Kemenag terkait Kemandirian Pesantren, Moderasi Beragama, Revitalisasi KUA, Transformasi Digital, Religiusitas index, Cyber University, dan Tahun Toleransi 2022 sebagai mandatory presiden kepada Menteri Agama. 

Dia menambahkan Kemenag memiliki aset yang luar biasa, berupa ASN yang berjumlah besar yang bersifat vertikal yang berpotensi menjadi kekuatan yang besar. 

"Misalnya, ketika Menag menyampaikan ucapan kepada komunitas Baha'i seharusnya jajaran Kemenag melakukan pengawalan dengan ketat agar isu yang sensistif tersebut tidak dipolitisir sehingga semakin tidak produktif. Saya berharap karena berada pada ranah akademik, seharusnya para akademisi di lingkungan PTKN  melakukan pengawalan dengan ketat. Dukungan justru didapatkan dari NGO yang koncern pada penegakkan hak asasi manusia," ucapnya. 

Ucapan Menag tersebut menurutnya, dalam konteks memberikan afirmasi kepada komunitas pemeluk agama yang berbeda untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara. Untuk itu narasi harus sama, satu frekuensi, standing harus sama tegak lurus terhadap negara. 

"Sama dengan sepak bola, yang bisa menyatukan bangsa. Dan sepak bola juga bisa menjadi biang pertikaian antar supporter. Sumber daya di Kemenag sangat besar, dan jika masih belum optimal, berarti masih ada yang salah dalam memanagenya. Kita harus menjadi contoh bagi K/L lainnya bukan sebaliknya. Skill ini harus diasah dengan terus berlatih," imbuhnya.  

Khusus untuk PTKN, Menag masih kecewa dengan hasil rangking lembaga survey karena hanya satu PTKN yang masuk katagori terbaik, padahal Kemenag memiliki PTKN yang cukup banyak.  
 

55

Berita Terkait