Selasa 20 Oktober 2020

Opini

20-07-2020

CORONA JADI GURU
        
 Dunia terguncang oleh suatu virus mematikan  yang menjangkiti hampir seluruh  penduduk berbagai belahan dunia. Menurut Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam suatu pertemuan di Jenewa seperti dikutip AFP, (Selasa 11/2/2020).’Covid-19’ merupakan singkatan dari ‘Co’ artinya Corona, ‘V’ yaitu Virus  dan ‘d’ untuk disease yang artinya penyakit, sedang ‘19’ adalah tahun penemuannya  di Kota Wuhan Cina pada 31 Desember 2019.

 Si mungil Corona telah memporak-porandakan tatanan yang ada di masyarakat. Masalah sosial terus bermunculan, di antaranya timbul rasa curiga dan hilangnya kepercayaan terhadap orang yang ada disekeliling kita. Hubungan silaturahmi terkendala, aspek ekonomi di masyarakat juga terdampak dengan jutaan usia produktif yang di PHK. Seluruh sendi kehidupan merasakan akibatnya. Perekonomian semakin terpuruk, banyak perusahaan tidak berproduksi. Orang sakit enggan pergi berobat ke Rumah Sakit karena khawatir tertular Corona.

Tetapi di sisi lain, kita melihat Corona telah berhasil menjadi Guru yang profesional, karena dapat mengubah sikap dan mindset masyarakat diantaranya para Ibu Rumah Tangga yang sebelumnya hanya pintar belanja dan memasak setelah dapat uang bulanan dari suami mereka, namun karena suami mereka di PHK, mereka menjadi berfikir keras untuk dapat menghasikan uang dengan memasak berbagai makanan ringan dan lauk-pauk lalu diposting lewat internet dan dijual hingga dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk membantu suami mencari nafkah. Dengan demikian mereka lebih bisa menghargai suaminya karena tahu betapa sulitnya mencari uang. Begitu juga sebaliknya.

Seorang suami pun secara dadakan menjadi petani yang mengolah lahan yang selama ini dibiarkan kosong atau mencari ikan ke laut. Bahkan ada juga yang semula berprofesi membuat Furniture kemudian banting setir mencari mata pencaharian lain yang lebih menjanjikan di masa pandemi ini.

Seorang Guru yang sebelumnya enggan untuk memegang Komputer meskipun sudah berbagai macam pelatihan diikuti dan selalu didengung-dengungkan agar tidak boleh gaptek (gagap teknologi), itupun tidak banyak membawa perubahan. Namun, berkat pandemi ini, mau tidak mau, suka tidak suka, sekarang harus melek teknologi karena  dituntut untuk mengajar secara daring (dalam jaringan) terutama di wilayah zona pandemi selain hijau.

 Lebih jauh kita teropong bahwa rasa syukur akan lebih tertanam di jiwa masyarakat. Jika sebelumnya menerima gaji cukup tetapi sekarang hanya beberapa persennya saja, hal ini membuat mereka lebih menghargai uang. Keakraban di rumah tangga juga menjadi lebih terbina karena lebih sering menghabiskan waktu di rumah disebabkan muatan kerja yang sedikit selama masa pandemi.

Seorang ibu dan ayah akan berusaha mengingat kembali pelajarannya semasa di bangku sekolah karena harus mengajari putra-putrinya dirumah. Seorang ayah pun harus mengimami keluarganya salat berjamaah karena tempat-tempat ibadah sempat ditutup selama beberapa waktu, dan banyak lagi pembelajaran yang dapat diambil dari Corona. Ternyata Corona jadi guru bagi yang mau belajar. Terima kasih atas takdirMu ya Allah, Kami yakin pasti ada hikmah besar dibalik musibah ini. Oleh: Ermaini, Guru MTs Miftahul Ulum Kawal. (ermainiguru70@gmail.com)
 

44