KESULTANAN LINGGA - RIAU

Oleh terrik    27-10-2016 11:12:03  

Kesultanan Lingga-Riau ialah sebuah kerajaan Islam di Kepulauan Lingga, Kepulauan Riau, Indonesia yang merupakan pecahan daripada Kesultanan Johor. Kesultanan ini dibentuk berdasarkan perjanjian antara United Kingdom dan Belanda pada tahun 1824, dengan Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah sebagai sultan pertamanya. Kesultanan ini dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 3 Februari 1911.

Kesultanan Lingga-Riau memainkan peranan yang penting dalam perkembangan bahasa Melayu sehingga menjadi bentuk bahasa Indonesia kini. Pada masa kesultanan ini, bahasa Melayu menjadi sebuah bahasa baku yang kaya dengan kesusasteraan serta memiliki kamus ekabahasa sendiri dan sejajar dengan bahasa-bahasa lain yang besar di dunia. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah Raja Ali Haji, seorang pujangga dan ahli sejarah yang berketurunan Melayu-Bugis.

Riau-Lingga pada awalnya merupakan sebahagian dari Kesultanan Melaka, dan kemudian Kesultanan Johor-Riau. Pada 1812 Sultan Mahmud Shah III wafat tanpa pewaris. Dalam sengketa yang timbul Inggeris mendukung putera tertua, Tengku Hussain, sedangkan Belanda mendukung adik tirinya, Tengku Abdul Rahman. Perjanjian Inggeris-Belanda pada 1824 membahagi Kesultanan Johor-Riau menjadi dua: Johor berada di bawah pengaruh Inggeris sedangkan Riau-Lingga berada di dalam pengaruh Belanda. Tengku Abdul Rahman ditabalkan menjadi raja Riau-Lingga dengan gelar Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah.

Pada 7 Oktober 1857 pemerintah Hindia-Belanda menurunkan Sultan Mahmud IV Muzaffar Shah dari takhtanya. Pada saat itu Sultan sedang berada di Singapura. Sebagai penggantinya diangkat bapa saudaranya, yang menjadi raja dengan gelar Sultan Sulaiman II Badrul Alam Shah.

Jawatan (Yang Dipertuan Muda) yang biasanya dipegang oleh bangsawan keturunan Bugis disatukan dengan jabatan raja oleh Sultan Abdul Rahman II pada 1899. Karena tidak ingin menandatangani kontrak yang membatasi kekuasaannya Sultan Abdul Rahman II meninggalkan Pulau Penyengat dan hijrah ke Singapura. Pemerintah Hindia Belanda menurunkan Sultan Abdul Rahman II dari takhtanya in absentia 3 Februari 1911, dan resmi memerintah sehingga tahun 1913.

Berita Terbaru

24-11-2017

Drs. Erman : Kemenag Tanjungpinang Dukung Gerakan Sagu Sabu

24-11-2017

Wawancara Khusus Bersama Kabid Madrasah Dalam Rangka Hari Guru Nasional 25 November 2017

24-11-2017

Dirham : Jangan Terjebak Dengan Rutinitas Kerjaan

23-11-2017

Ridwan Syam : Ingat 5 Pasti

23-11-2017

PAUD Kurnia Djaja Alam Kunjungi Pura Agung Amerta Bhuana

23-11-2017

Pimpin Apel, Ini Pesan Erizal

23-11-2017

Kapolres dan Kakan Kemenag Kota Tanjungpinang Teken MoU

22-11-2017

Dialog Lintas Agama Bintan

22-11-2017

Kemenag Batam Tandatangani Nota Kesepakatan Bersama Dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batam

22-11-2017

Drs. Erman Zaruddin : Harus Inovatif dalam Memanfaatkan Anggaran

Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

Oleh admin    28-09-2017 01:12:36  

Masjid yang menjadi kebanggaan orang Melayu ini didirikan pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M), atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda RiauVII. Pelaksanaan pembangunannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat di kerajaan Riau, yang bekerja siang malam secara bergiliran.

Di dalam masjid, tersimpan kitab-kitab kuno (terutama yang menyangkut agama Islam), bekas koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Benda menarik lain yang terdapat dalam masjid adalah mimbar indah dan kitab suci al-Quran tulisan tangan.

Masjid ini terletak di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kecamatan Tanjung Pinang Barat, Kepulauan Riau, Indonesia. Pulau Penyengat berukuran sekitar 21 km, berjarak sekitar 2 km dari Tanjung Pinang, dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dengan perahu motor.

Masjid Sultan Riau ini terletak di pelataran. Kemungkinan, lokasi tersebut bekas bukit kecil yang diratakan, dengan tinggi sekitar 3 meter dari permukaan jalan. Untuk naik ke masjid, dibuat tangga yang cukup tinggi.

 

Masjid ini berukuran 1819,80 m, sementara luas lahannya sekitar 5533 m.

Dalam kompleks masjid, dari tangga hingga mihrab, terdapat unit bangunan yang terpisah-pisah, masing-masing dalam posisi simetris. Dari tangga, terdapat jalan setapak pada sumbu tengah dari unit bangunan simetris tersebut. Di halaman kiri dan kanan masjid, ada bangunan berdinding beratap limasan batu. Masyarakat setempat menyebut bangunan kembar tersebut dengan nama sotoh. Tempat ini berfungsi sebagai tempat permusyawaratan para ulama dan cendekiawan.

Selain itu, juga terdapat bangunan kembar di sisi kiri dan kanan, masing-masing berbentuk persegi empat panjang. Sisi terpanjangnya sejajar dengan arah kiblat. Kedua bangunan ini semacam gardu, tapi besar dan panjang tak berdinding, mempunyai kolong, dengan konstruksi terbuat dari kayu.

Pintu utama masuk masjid berada di tengah, menjorok ke depan seperti beranda (porch) dan diatapi kubah. Di tiap sudutnya terdapat pilaster. Denah dan semua elemen yang ada dalam masjid berada dalam susunan simetris.

Atap ruang utama masjid sangat unik, dan menunjukkan adanya pengaruh India, dimana arsiteknya berasal. Keunikan itu berupa deretan melintang dan membujur dari kubah-kubah.

 

Kubah berbentuk bawang, berbaris empat mengarah kiblat dan berbaris tiga dengan arah melintang. Secara keseluruhan kubahnya berjumlah 12. Jika ditambah dengan kubah di atas beranda depan pintu masuk utama, maka, jumlahnya menjadi 13.

Masjid memiliki 4 buah menara, posisinya berada di setiap sudut ruang utama sembahyang, dengan bentuk yang hampir sama. Puncak menara berbentuk sangat runcing seperti pensil. Tampaknya menara ini dipengaruhi oleh menara-menara masjid di Turki, yang sebenarnya berasal dari gaya arsitektur Bizantium. Hal yang sedikit membedakan, menara masjid di Turki runcing, tinggi dan ramping, sementara menara Masjid Sultan Riau di Penyengat hanya runcing, namun tidak tinggi dan ramping (gemuk).

Mengenai arti jumlah kubah yang mencapai 13 buah, ada yang mengatakan bahwa jumlah tersebut melambangkan rukun masjid, dan jika ditambah dengan jumlah menara yang empat, maka jumlahnya menjadi 17. Ini melambangkan jumlah rakaat shalat fardlu dalam sehari semalam.

Bangunan masjid ini seluruhnya terbuat dari beton. Di bagian dalam ruang utama, terdapat empat buah tiang utama. Cerita masyarakat tempatan menyebutkan, untuk membangun masjid ini, terutama untuk memperkuat beton kubah, menara dan bagian tertentu lainnya, dipergunakan bahan perekat dari campuran putih telur dan kapur.

Berdasarkan cerita turun temurun masyarakat tempatan, konon arsitek Masjid Penyengat adalah seorang keturunan India yang bermukim di Singapura. Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti, siapa nama arsitek tersebut.

Berita Terbaru

24-11-2017

Drs. Erman : Kemenag Tanjungpinang Dukung Gerakan Sagu Sabu

24-11-2017

Wawancara Khusus Bersama Kabid Madrasah Dalam Rangka Hari Guru Nasional 25 November 2017

24-11-2017

Dirham : Jangan Terjebak Dengan Rutinitas Kerjaan

23-11-2017

Ridwan Syam : Ingat 5 Pasti

23-11-2017

PAUD Kurnia Djaja Alam Kunjungi Pura Agung Amerta Bhuana

23-11-2017

Pimpin Apel, Ini Pesan Erizal

23-11-2017

Kapolres dan Kakan Kemenag Kota Tanjungpinang Teken MoU

22-11-2017

Dialog Lintas Agama Bintan

22-11-2017

Kemenag Batam Tandatangani Nota Kesepakatan Bersama Dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batam

22-11-2017

Drs. Erman Zaruddin : Harus Inovatif dalam Memanfaatkan Anggaran

MESJID JAMIK DAIK LINGGA

Oleh admin    28-09-2017 01:14:40  

Masjid Jamik Daik terletak di kampung Darat, Daik, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Masjid Jamik Daik ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat Syah (1761-1812 M), di saat ia memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga. Sumber setempat menyebutkan bahwa, pembangunan masjid dimulai sekitar tahun 1803 M. Seluruh bangunan asli berasal dari kayu. Ketika Masjid Penyengat selesai dibangun, Masjid Jamik ini kemudian dirombak dan dibangun lagi dari beton.

Struktur ruang utama masjid tidak menggunakan tiang untuk menyangga kubah atau loteng. Pada mimbar, terdapat tulisan yang terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi), bertuliskan: Muhammad saw. Pada 1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen membuat mimbar di dalam negeri Semarang Tammatulkalam.Tulisan ini memberi petunjuk bahwa mimbar indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah, dengan memasukkan motif-motif ukiran tradisional Melayu.

Berita Terbaru

24-11-2017

Drs. Erman : Kemenag Tanjungpinang Dukung Gerakan Sagu Sabu

24-11-2017

Wawancara Khusus Bersama Kabid Madrasah Dalam Rangka Hari Guru Nasional 25 November 2017

24-11-2017

Dirham : Jangan Terjebak Dengan Rutinitas Kerjaan

23-11-2017

Ridwan Syam : Ingat 5 Pasti

23-11-2017

PAUD Kurnia Djaja Alam Kunjungi Pura Agung Amerta Bhuana

23-11-2017

Pimpin Apel, Ini Pesan Erizal

23-11-2017

Kapolres dan Kakan Kemenag Kota Tanjungpinang Teken MoU

22-11-2017

Dialog Lintas Agama Bintan

22-11-2017

Kemenag Batam Tandatangani Nota Kesepakatan Bersama Dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batam

22-11-2017

Drs. Erman Zaruddin : Harus Inovatif dalam Memanfaatkan Anggaran