Umat Hindu Gelar Upacara Pujawali VII Pura Agung Amertha Bhuana

Oleh admin    16-11-2016 03:09:51  

Sei Ladi (Humas)- Umat Hindu di Kota Batam menggelar upacara Pujawali VII di Pura Agung Amertha Bhuana Sei Ladi Kecamatan Sekupang Batam, Senin (14/11) pukul 19.00 WIB bertepatan dengan purnama sasih ke lima. Upacara pujawali merupakan bagian dari Dewa Yajna yang berarti memuja kembali keagungan Tuhan pada hari yang sudah ditentukan. Demikian penjelasan yang di sampaikan Penyelenggara Hindu Kemenag Batam Eko Prasetyo di ruang kerjanya Kantor Kementerian Agama Kota Batam Jl. Mesjid Raya Baiturrahman Sekupang, Rabu (16/11). Hadir pada kesempatan itu Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam Eko Prasetyo, S.Ag, Penyuluh Agama Hindu Kanwil kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau Purwadi, S.Ag, Pengurus Parisada Prov. Kep. Riau, WHDI Prov. Kep. Riau Ny. Dara Astuti, Ketua Lembaga Agama dan Keagamaan se-Kota Batam.

Dijelaskannya, Pujawali kali ini tergolong sangat special karena bertepatan dengan fenomena bulan purnama penuh (full moon). Pujawali adalah hari jadi pura yang diisi dengan aktivitas spiritual berupa upakara keagamaan guna menumbuhkan keimanan umat Hindu di Kota Batam. Lanjutnya, Ketua Pantia Kadek Witarsa menyebutkan tema Pujawali VII Pura Agung Amerta Bhuana adalah “melalui Pujawali VII Pura Agung Amerta Bhuana mari kita tingkatkan kualitas sradha dan bhakti menuju loka samgraha dan kemuliaan hidup”. Tema ini muncul didorong atas pentingnya menumbuhkan sradha (keimanan) umat Hindu di tengah kehidupan di era globalisasi yang penuh dengan godaan dan tantangan ini.

Ketika umat mengamalkan ajaran agama Hindu dengan baik maka kemuliaan hidup akan tercapai, jelas kadek Witarsa kala itu. Sementara Wayan Catra selaku Paruman Walaka juga menjelaskan bahwa Pujawali ini dari, untuk dan oleh kita. Artinya semua umat harus ikut andil, mempersembahkan bhakti yang tulus kepada Tuhan, niscaya Tuhan juga akan memberikan anugerah-Nya kepada umat-Nya. Pujawali bukan hanya tanggung jawab panitia, pinandita dan serathi banten tetapi juga seluruh umat Hindu di Kota Batam.

"Pujawali merupakan salah satu pembumian dan pelestarian ajaran Weda demi tetap tegaknya dharma di muka bumi ini. Pujawali merupakan implementasi dari satyam (kebenaran), siwam (kesucian) dan sundaram (keindahan) yang pada akhirnya akan menciptakan lokasamgraha (tempat yang damai), dharma sidhiyartha yang berdasarkan Iksa (tujuan), sakti (kemampuan), desa (tempat), kala (waktu) dan tattwa (sastra suci),"ucap Wayan.

Disinggung tentang rangkaian upacara pujawali, Eko menerangkan bahwa ada beberapa rangkaian, namun yang paling umum adalah mecaru dan Purwa daksina. Upakara didahului dengan proses mecaru yang berfungsi menjalin hubungan yang harmonis kepada unsur alam (palemahan). Bhuta kala adalah unsur penyeimbang yang berperan menjaga keseimbangan alam ini yang harus kita hormati malalui prosesi pecaruan. Selanjutnya adalah Upacara Purwa daksina, yaitu berjalan mengelilingi padmasana dengan membawa pratima-pratima searah jarum jam sambal mengulang-ulang nama suci Tuhan.

Ini memberi makna bahwa (1) Kita harus mengagung-agung nama suci Tuhan; (2) Kita sebagai manusia harus ikut memutar roda kehidupan di jalan kebenaran, jika kita keluar dari jalan dharma maka kita akan mendapatkan hukumannya. Dalam mengarungi kehidupan ini terkadang kita mengalami suka dan duka yang datang silih berganti. Penderitaan yang muncul akibat kegiatan kerja yang kita lakukan ibarat bisa atau racun (wisaya) yang keluar dari proses pengadukan lautan kehidupan. Sebaliknya kebahagiaan yang muncul dari kegiatan kerja kita ibarat tirtha amertha yang memuaskan dahaga kita.

"Jika salah kita memutar roda kehidupan, maka bukannya madu yang kita dapatkan melainkan racun,"ujar Eko.

"Tetapi terkadang walau kita sudah memutar roda kehidupan di jalan kebenaran tetapi kita masih saja mendapatkan racun (wisaya), itu adalah bagian dari hukum rta yaitu, lahir-mati, penyakit, usia tua, dan penderitaan (janma mertyu jara wyadi duhka dosa nudarsanam)," imbuhnya.

Terakhir, acara Pujawali ditutup dengan pementasan tari sakral topeng sidha karya dan persembahyangan tepat pukul 24.00 Wib. Umat Hindu sangat antusias mengikuti acara dari awal sampai akhir.(bad70/yd/Eko Prasetyo).

Berita Terbaru

28-05-2018 09:02:16

JCH Kabupaten Karimun Tahun 2018 Berangkat Pada Gelombang II di Kloter 19

28-05-2018 09:00:56

JCH Kabupaten Karimun Akan Berangkat pada 07 Agustus 2018 dan Kembali pada 17 September 2018

28-05-2018 08:59:17

Koper JCH Kabupaten Karimun 2018 Mulai Dibagikan Hari Ini Kepada Jamaah

28-05-2018 08:57:44

Tunjangan Profesi Guru PAI PNS Kabupaten Karimun untuk Bulan April 2018 Sudah Cair

28-05-2018 08:56:21

Sebanyak 20 Guru PAI NON-PNS Karimun untuk Bulan April 2018 Tunjangan Profesinya Dibayarkan

28-05-2018 08:54:54

50 Guru PNS Pada RA/Madrasah Sudah Menerima Tunjangan Profesi Untuk Bulan Maret dan April 2018

28-05-2018 08:53:09

TPG 54 Guru Non-PNS Pada RA/Madrasah di Karimun Untuk Bulan Maret dan April 2018 Sudah Dicairkan

25-05-2018 02:47:18

Drs.H.Erman Zaruddin  ttd MOU Dengan Ka Lapas terkait Anti Narkoba

25-05-2018 11:04:28

Sore Ini, Kemenag Gelar Safari Ramadhan Ke Belakang Padang

25-05-2018 09:07:25

Koper Jamaah Calon Haji Kabupaten Karimun Tahun 2018 Sudah Tiba di Kemenag Karimun